Setiap orang memiliki minat baca yang berbeda-beda. Hal ini juga disadari oleh Bella Moulina (20) pada lima tahun silam. Mereka melihat kurangnya minat literasi di kalangan pemuda dan anak-anak Jambi. Kegelisahan pun tak bermuara tanpa solusi. Bersama rekannya, Meila Rosianika, Bella mulai membentuk Sahabat Ilmu Jambi (SIJ) pada 5 Agustus 2011.

SIJ memosisikan diri sebagai komunitas independen yang bergerak di bidang kerelawanan, kepemudaan, kreativitas, dan sosial pendidikan. Dengan mengusung semangat “Menebar Ilmu, Membuka Cakrawala”, kegiatan lebih banyak berorientasi pada aktivitas yang bertujuan meningkatkan minat baca dan menulis. Para relawan berbagi ilmu di kalangan anak-anak yang kurang beruntung, termasuk anak-anak panti asuhan, anak jalanan, dan anak tidak mampu di Jambi.

Simak cerita lebih lengkap di #LanggamKlasika edisi 25 Mei 2016. Ini adalah serial terakhir dalam rangkaian artikel tematis #HariBukuNasional.

Melewatkan artikel-artikel sebelumnya? Snap QR Code di halaman #KompasKlasika, temukan artikel tentang perpustakaan digital, buku huruf braille, efek penggunaan e-book, manfaat buku untuk kesehatan, profil komunitas yang meningkatkan minat baca, serta ruang baca alternatif.
via Klasika

Sejatinya, buku—yang menjadi bagian dari kegiatan membaca, menulis, dan belajar—punya banyak hal positif dan kekuatan besar untuk mengubah. Bisa dimaklumi kalau aktivitas membaca acap diserukan, dan tentu akan lebih ideal kalau tersedia ruang untuk membaca.

Di beberapa tempat, kita bisa menemukan ruang tersebut, termasuk toko atau ruang baca indie di luar jaringan toko buku besar. Salah satunya Toko Buku Kecil (Tobucil) and Klabs, yang kini berkembang menjadi tempat komunitas berkumpul.

Simak cerita lebih lengkap di #LanggamKlasika edisi 24 Mei 2016, masih dalam rangkaian artikel tematis memeriahkan #HariBukuNasional.
via Klasika

Kami menelusuri kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, melewati gang yang minim pencahayaan dan jauh dari ingar-bingar kesibukan kawasan elite Jakarta. Malam itu, kami berjumpa dengan relawan Komunitas Jendela Jakarta. Dengan tagline “Prepare The Reader To Build The Future”, komunitas ini mampu menjadi oasis bagi anak-anak di kawasan Manggarai melalui taman baca sederhana yang dihadirkannya. Meski bukan lembaga formal, komunitas ini tak berhenti berupaya untuk menghadirkan wadah bagi anak-anak di sekitar untuk meningkatkan minat baca mereka.

Komunitas Jendela pertama kali didirikan di Yogyakarta pada 2011. Selain Yogyakarta, saat ini, Komunitas Jendela telah tersebar di Jakarta, Bandung, Malang, Lampung, dan Medan. Untuk cabang Jakarta sendiri, komunitas ini telah hadir di Manggarai, Jakarta Selatan; Sunter, Jakarta Utara; dan Serpong. Pada Minggu (15/5) siang, komunitas Jendela Jakarta area Serpong berkolaborasi dengan Komunitas Jelajah Buku (Jejaku). Adik-adik asyik mendengarkan dongeng, menyusun huruf, dan belajar bermain angklung.

Simak cerita lebih lengkap dalam #LanggamKlasika edisi 20 Mei 2016. #KompasKlasika menghadirkan artikel tematis dalam rangka memeriahkan #HariBukuNasional.
via Klasika

Membaca adalah hak setiap individu. Ketika daya untuk melihat terbatas sementara sebagian besar buku hanya bisa dibaca dengan mensyaratkan kemampuan visual, hak itu tetap tak boleh dibatalkan. Sebagian orang tekun mengupayakan buku yang aksesibel untuk para penyandang tunanetra.

Akses buku untuk penyandang tunanetra memang masih sangat minim. Di Indonesia, Yayasan Mitra Netra menjadi salah satu lembaga yang gigih mengupayakan penyediaan buku-buku yang memungkinkan penyandang tunanetra membaca secara mandiri. Secara akumulatif, buku aksesibel yang tersedia untuk tunanetra sekarang baru 1–2 persen.

Simak cerita lebih lengkap dalam #LanggamKlasika edisi 19 Mei 2016. #KompasKlasika hadirkan artikel tematis dalam rangka memeriahkan #HariBukuNasional. Snap QR Code juga untuk cari tahu tentang buku braille dan buku audio digital.
via Klasika

Buku adalah jendela dunia. Setiap hal yang didapat melalui buku bisa menjadi sumber inspirasi kita untuk berkegiatan dan beraksi memberikan perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, tidak semua masyarakat di Indonesia memperoleh akses yang sama terhadap buku. Tak hanya akses, rendahnya minat baca dan kesulitan mendapatkan rekomendasi buku yang bagus juga menjadi kendala bagi masyarakat yang ingin membaca buku.

Di hari Buku Nasional yang jatuh pada 17 Mei 2016, KOMPAS mengajak pembaca untuk berubah bersama dalam berliterasi.

Bagikan dan rekomendasikan buku yang menginspirasi sebagai wujud aksi peduli literasi via Instagram. Buku yang kamu rekomendasikan akan dikurasi oleh @matahatimaman & @post_santa, kemudian didonasikan di 5 wilayah di Indonesia.

Caranya:

· Foto & share buku rekomendasi kamu mulai dari buku cerita anak, novel, sastra, atau buku lainnya yang berkesan, dan menginspirasi bahkan mengubah jalan hidupmu.

· Cantumkan kutipan buku yang menginspirasi kamu di dalam foto atau dalam caption. Kunjungi berubahbersama.com untuk mengedit foto.

· Tuliskan judul dan penulis buku pada caption dan alasan kenapa buku tersebut sangat berkesan bagimu sehingga perlu kamu rekomendasikan bagi orang lain.

· Sertakan tagar #BukuUntukBerbagi#BerubahBersama

· Tag akun @kompasmuda dan 5 temanmu

· Periode posting foto: 17–26 Mei 2016

Info lengkap, cek Kompas MuDA dan http://ift.tt/1rUWEk4

Setiap buku yang kamu bagi, sangat berarti :)
via Klasika

Salah satu manfaat membaca buku adalah menambah pengetahuan, termasuk soal kesehatan. Sama halnya dengan pengalaman seseorang yang sering membaca buku tentang kesehatan, terutama yang berkaitan dengan penyakit diabetes. Ia semakin sadar akan bahaya gula dan makanan yang mengandung Indeks Glikemik tinggi (IG).

Bagaimana dengan Anda? Buku kesehatan seperti apa yang pernah dibaca?

Simak informasi lebih lengkap dalam #LanggamKlasika edisi 18 Mei 2016. #KompasKlasika hadirkan artikel tematis dalam rangka memeriahkan #HariBukuNasional.
via Klasika

Satu buku, satu kesempatan baru mengubah dunia. Selamat Hari Buku Nasional!

Apa manfaat membaca buku bagi Anda?

#BerubahBersama
#BukuuntukBerbagi
#HariBukuNasional
via Klasika

Membaca e-book sebelum tidur dapat mengganggu kenyamanan tidur dan kesehatan. Tubuh secara alami mempunyai ritme untuk mengenali suasana siang dan lama hari dengan jam tubuh internal (internal body clock). Adanya ancaman di balik membaca e-book bukan berarti kita lantas menghentikan akses terhadap buku elektronik ini. Untuk mengantisipasi efek buruk membaca e-book, ada hal-hal sederhana yang bisa dilakukan. Misalnya dengan cara membatasi waktu membaca e-book dari 5 jam per hari menjadi 2 jam per hari.

Simak informasi lebih lengkap dalam #LanggamKlasika hari ini (17/5). #KompasKlasika hadirkan artikel tematis dalam rangka memeriahkan #HariBukuNasional.
via Klasika

Satu buku, satu kesempatan baru mengubah dunia. Selamat Hari Buku Nasional!

Apa manfaat membaca buku bagi Anda?

#BerubahBersama #BukuuntukBerbagi
via Klasika

Selamat kepada @Saepulohedo, @maswidik, dan Timin Riadez (Facebook) sebagai pengirim #KicauKeluarga yang beruntung edisi Minggu (8/5). Pemenang dari Twitter akan dihubungi admin @KompasKlasika. Pemenang dari Facebook harap mengirimkan pesan konfirmasi via message kepada akun Facebook Kompas Klasika (paling lambat 16 Mei 2016, pukul 17.00 WIB) agar mendapat informasi detail pengambilan hadiah.

PERTANYAAN BERIKUTNYA:
Mendidik anak adalah tanggung jawab orangtua. Lantas, bagaimana cara Anda mengajarkan anak untuk berbagi?
Kirim opini di kolom komentar di bawah postingan ini ya… paling lambat Jumat, 20 Mei 2016 pukul 10.00 WIB.

Tiga pengirim beruntung akan mendapatkan bingkisan dari Kompas. Nama pemenang akan diumumkan pada Klasika Keluarga edisi Minggu berikutnya. Jangan sampai ketinggalan untuk membacanya. Siapa tahu ada ada nama Anda di sana :)
via Klasika

Recent Tweets